Selasa, 17 Februari 2009

Sebuah Panggilan

Ketika seorang mahasiswa kependetaan ditanya, kenapa anda memilih jurusan kependetaan? Sepertinya hampir merupakan jawaban klise, .... ia menjawab karena "panggilan". Sebetulnya apa makna dibalik kata panggilan? Kata ini sangat menarik bagi saya untuk menerapkannya pada keinginan seseorang dalam mengambil keputusan untuk menikah.... Renungkanlah kisah berikut ini, seorang laki-laki yang baru menikahi seorang wanita yang sangat cantik, tidak lama kemudian menghadapi situasi berat sang istri minta bercerai, apa masalahnya? Satu ketika pasangan baru ini di rumahnya yang baru, dikunjungi seorang tamu laki-laki, yang kemudian dipersilahkan masuk dan dibiarkan oleh sang istri untuk mengobrol berduaan di ruang tamu. Dari dapur sang istri mendengarkan percakapan mereka agak kuat dan seperti ada perselisihan, diam-diam sang istri mendekat dan menguping percakapan mereka dengan lebih jelas. Sang istri tercengang karena sang tamu rupanya teman kencan/pacar sesama jenisnya. Spontan sang istri marah, sedih bingung dan akhirnya minta segera bercerai. Selidik punya selidik sang suami ketika ditanya, kenapa mau menikah dengan istrinya itu kalau memang tidak cinta, ia menjawab demi status yang terus saja ditanyai oleh orang tuanya.
Itulah yang saya maksud dengan panggilan untuk menikah. Menikah atau pun tidak menikah adalah sebuah panggilan, sangatlah tidak dianjurkan sebuah pernikahan tanpa dilandasi kasih yang tulus. Banyak alasan seseorang segera menikah, karena usia, desakan ekonomi, status di masyarakat dll., yang tentu saja tidak diijinkan dan ini bukanlah "panggilan".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar